Fir’aun Seorang Muslim?

Posted on Oktober 29, 2010

0



 

 

 

 

 

 

 

 

Para pendewa akal dan pengekor hawa nafsu tidak henti-hentinya membuat pernyataan yang membuat guncang aqidah kaum muslimin yang sebelumnya telah lurus. Mereka berusaha memasukkan kerancuan ke dalam hati orang-orang beriman agar mereka menjadi ragu-ragu atas apa yang mejadi keyakinan para pendahulu mereka sehingga orang awam yang berakidah lurus berubah menjadi orang yang buta dan tuli terhadap kejelasan al-Qur’an. Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari berbagai kerancuan dan menyelamatkan keimanan kita hingga kematian menjemput. Amin.

 

Pernyataan yang Tidak Bisa Diterima Akal Sehat

Mereka melontarkan kerancuan-kerancuan yang dikemas dengan dalil al Qur’an dengan harapan apa yang disampaikannya memiliki hujjah. Namun sungguh sangat ironis tatkala dalil yang mereka bawa justru menghantam kesesatan omongan mereka sendiri. Di antara syubuhat (kerancuan-kerancuan) yang mereka buat-buat adalah:

1. Mereka mengatakan bahwa Fir’aun adalah seorang muslim dan dia mati dalam keadaan beriman.

Berdalil dengan firman Allah Ta’ala,

“Dan kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, Karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu Telah hampir tenggelam berkatalah dia, “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Qs. Yunus: 90)

2. Tenggelamnya Fir’aun mereka anggap sebagai mandi wajib ketika seseorang melepas pakaian kekafirannya sehingga saat itu juga dia telah masuk Islam.

3. Mereka juga beranggapan bahwa tidak ada satu pun ayat dalam al Quran yang menyatakan Fir’aun seorang kafir.

Siapakah yang Berpemahaman Sesat Itu?

Saudariku yang dirahmati Allah Ta’ala, sebagian saudara kita yang sibuk mempelajari filsafat tentu tidak asing lagi dengan tokoh filusuf yang satu ini, Ibnu Arobi [1]. Dialah orang yang pertama kali mengatakan Fir’aun mati sebagai seorang muslim dan pernyataan-pernyataan lain yang meyimpang dari agama Islam yang lurus. Tulisan-tulisannya yang membawa racun, banyak dijadikan bahan rujukan oleh para pemikir barat (Islam Liberal), di antaranya yang terkenal adalah Fushush al Hukmdan al Futuhat al-Makiyyah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menggelari mereka sebagai orang nifaq, zindiqah, orang taklid buta karena keyakinan ittihadiyah yang ada pada mereka dengan mengatakan wujud Allah Ta’ala adalah wujudnya makhluk, sampai-sampai mereka menegaskan bahwa Yaghuts, Ya’uq dan Nasr dan nama-nama berhala lainnya adalah wujud Allah, mereka disembah dengan kebenaran demikian juga anak sapi yang disembah Bani Israil adalah suatu yang sah-sah saja. Lahaula wala quwwata illa billah, tentu saja pernyataan ini sangat batil dan jelas nyata kesesatannya.

Bantahan Telak

Saudariku, dengan memohon taufiq dari Allah Ta’ala berikut ini kami bawakan ringkasan risalah yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, ar-Rad ‘ala Ibni Arobi. Bantahan telak dan penjelasan yang gamblang bagi orang yang masih memiliki fitrah yang suci dengan sedikit tambahan dari kami.

Keyakinan Fir’aun sebagai orang kafir, mati dalam keadaan kafir dan dia termasuk penduduk neraka adalah perkara yang sudah disepakati agama kaum muslimin, bahkan agama Yahudi dan Nasrani pun telah mengakuinya. Ketiga agama tersebut bersepakat bahwasanya Fir’aun termasuk makhluk yang paling kafir.

Oleh karena itu Allah ta’ala tidak menyebutkan kisah orang kafir melebihi kisahnya Fir’aun secara jelas bahkan sampai berulang-ulang. Dan juga Allah Ta’ala tidak menceritakan seorang pun tentang kekafirannya melebihi kekafiran Fir’aun, perbuatannya yang melebihi batas serta siksaan paling keras di hari kiamat kelak.

Oleh karena itu, kaum muslimin sepakat bahwa orang yang tawaquf (diam diri) tentang kafirnya Firaun dan kelak ia termasuk penguni neraka, maka wajib bagi dirinya untuk dimintai taubat. Jika tidak mau bertaubat maka dia dibunuh sebagai orang kafir yang keluar dari Islam. Bagaimana lagi jika dia mengatakan Fir’aun mati sebagai seorang mukmin, meragukan kekafirannya atau bahkan mengingkarinya? Saudariku, tidakkah engkau lihat Abu Jahl, ‘Uqbah Ibn Abi Mu’ith dan orang kafir Quraisy lainnya dimana tidak ada satu pun yang mengingkari kekafiran mereka atau mengatakan bahwa mereka mati dalam keadaan beriman padahal nama-nama mereka tidak pernah disebutkan dalam al Qur’an sebagaimana Fir’aun, lantas tiba-tiba ada orang yang berani menentang Allah dengan mengatakan Fir’aun adalah seorang mukmin?! Innalillahi wainna ilaihi raji’un.

Allah Ta’ala Sendiri Menafikan Keimanan Fir’aun

Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia, “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Qs. Yunus: 90)

Dan kelanjutan ayat dari kisah diatas menunjukkan dengan jelas akan kesesatan Fir’aun, Allah Ta’ala melanjutkan firmanNya,

“Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Qs. Yunus: 91)

Ayat ini mengandung makna istifham inkari (kalimat tanya yang berfungsi untuk menafikan, pen) dan bentuk celaan yang Allah berikan kepada Fir’aun. Seandainya keimanan Fir’aun tersebut benar dan diterima di sisi Allah tentu Allah Ta’ala tidak akan berkata demikian.

Di tempat lain Allah Ta’ala juga berfirman,

“Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal Sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.” (Qs. Yunus: 91-92)

Allah Ta’ala menjadikan kisah (kekafiran) Firaun ini sabagai pelajaran bagi umat-umat sesudahnya, agar mereka bisa memperhatikan akibat orang-orang yang ingkar kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala Menyifati Firaun dengan Dusta dan Kekafiran

Allah Ta’ala berfirman,

“Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang Musa).” (Qs. An Nazi’at: 21-22)

Di ayat lainnya Allah menyatakan,

“Dan berkatalah Fir’aun, “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang Tinggi supaya Aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya Aku dapat melihat Tuhan Musa dan Sesungguhnya Aku memandangnya seorang pendusta.” Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian.” (Qs. Ghafir: 36-37)

Allah Ta’ala mensifati firaun dan tentarannya dengan sifat dusta dan kekafiran, karena orang mendustakan risalah rasul berarti juga ia telah melakukan kekafiran.

Bersambung insya Allah…


Penulis: Ummu Fatimah Umi Farikhah
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar

[1]. Perlu diperhatikan disini bahwa  Ibnu Arabi memiliki nama lengkap  Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Arabi Aththoi al-Andalusiy terlahir dari keluarga fanatik sufisme. Berbeda dengan Ibnul Arabi (dengan huruf alif lam), nama lengkap beliau Abu Bakr Muhammad bin Abdillah bin Muhammad Ibnul Arabi, seorang qadhi dan ulama Malikiyyah, ayahnya murid senior Ibnu Hazm bermadzab dzahiry.

Maraji:
Al Qur’an Terjemahan
Ar Rad ‘ala Ibni ‘Arobiy, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Maktabah As Syamilah
Syarh Kasyf asy Syubuhat, Muhammad Ibn Shalih al ‘Utsaimin, Dar Ats tsurayya
http://www.islamweb.net/newlibrary/showalam.php?ids=12815

sumber: http://www.suaramedia.com

 

Posted in: religi