Dinosaurus, Monster Raksasa Yang Tercipta Dari Pemanasan Global

Posted on Desember 21, 2010

0



Gambar Ilustrasi Dinosaurus. (Foto: Google)

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Pemanasan global menghancurkan hutan hujan tropis sekitar 300 juta tahun yang lalu.

Kini ilmuwan melaporkan temuan mengejutkan yang mengungkapkan bahwa pemanasan global memicu evolusi drastis di kalangan reptil.

Evolusi tersebut, secara tidak sengaja membuka jalan munculnya dinosurus, 100 juta tahun kemudian. Meningkatnya suhu global terjadi di periode Carboniferous.

Di saat itu, Eropa dan Amerika Utara berada di kawasan khatulistiwa dan memiliki hutan hujan tropis yang cukup luas. Namun, saat suhu Bumi semakin panas dan kering, hutan hujan menjadi tandus dan memicu evolusi reptil. Demikian seperti diberitakan Telegraph.

Populasi reptil yang terisolasi ini, kata Falcon-Lang, dan masing-masing komunitasnya berevolusi ke arah yang berbeda-beda dan menyebabkan meningkatnya keanekaragaman. Adapun spesies yang paling berhasil bertahan adalah reptil.

Terputus dari satu sama lain, menghadapi lingkungan yang sangat keras, reptil-reptil ini kemudian berevolusi secara berbeda dan dalam cara yang mengerikan.

Sekitar 100 tahun kemudian, reptil-reptil yang berevolusi tersebut membuat Bumi ‘berguncang’ akibat langkah kaki-kaki mereka.

Hancurnya lingkungan hidup akibat pemanasan global tampaknya telah memicu rangkaian yang kemudian menjurus ke pemunculan predator raksasa paling mengerikan sepanjang sejarah planet Bumi.

Para ilmuwan di Royal Holloway, University of London dan Bristol University memperingatkan bahwa penemuan ini juga adalah pesan untuk manusia karena mereka juga bisa punah dari muka Bumi apabila hutan hujan Amazon terus dibabat.

“Perubahan iklim tersebut menyebabkan hutan hujan terbagi menjadi kumpulan hutan hujan yang lebih kecil. Populasi reptil yang terisolasi di masing-masing hutan hujan tersebut akhirnya berevolusi menjadi lebih beragam. Hal ini adalah respon alam yang natural dalam menanggapi perubahan habitat,” ujar Professor Mike Benton.

Sarda Sahney, juga dari Bristol University, mengatakan “Sangat mengagumkan. Meski menghadapi kerusakan ekosistem, hewan-hewan tetap melanjutkan proses evolusi mereka. Bagaimanapun kehidupan kita saat ini tidak akan seberuntung kehidupan 300 juta tahun yang lalu. Jadi haruskah hutan hujan Amazon itu rusak?”

Untuk mengambil kesimpulan ini, para ilmuwan mempelajari catatan fosil pada reptil sebelum dan sesudah peristiwa hancurnya hutan hujan tropis pada 300 juta tahun yang lalu. Catatan-catatan tersebut menunjukkan bahwa reptil menjadi lebih beragam dan bahkan berubah pola makan mereka sebagaimana, reptil-reptil tersebut berjuang untuk beradaptasi dalam menghadapi perubahan iklim dan lingkungan. (ar/ok/vs) www.suaramedia.com

Posted in: tahukah kamu?