Kisah Bangsawan Inggris Terkemuka Memilih Islam

Posted on Januari 4, 2011

0



Charles Edward Archibald Watkins Hamilton Bangsawan ternama  Inggris, yang adalah seorang Kristen cukup mencengangkan dengan  keputusannya berpindah agama memluk Islam. Bangsawan ternama tersebut  menceritakan alasannya berpindah agama dari segi sosial dan hukum  syariah yang dibawa dalam Islam. (Foto: Google)Charles Edward Archibald Watkins Hamilton Bangsawan ternama Inggris, yang adalah seorang Kristen cukup mencengangkan dengan keputusannya berpindah agama memluk Islam. Bangsawan ternama tersebut menceritakan alasannya berpindah agama dari segi sosial dan hukum syariah yang dibawa dalam Islam. (Foto: Google)

LONDON (Berita SuaraMedia) – Walaupun orang-orang seharusnya bebas untuk meyakini agama apapun yang mereka inginkan: bagaimanapun juga, pertanyaan masuk akalnya adalah: Adakah sebuah alasan yang bagus orang papan atas yang paling terkenal berpindah agama ke Islam? Alasan apakah yang memungkinkan?

Pria terkenal papan atas tersebut adalah Sir Charles Edward A. W. Hamilton.

Siapakah Sir Charles Edward A. W. Hamilton?

Nama lengkapnya adalah, Sir Abdullah Charles Edward Archibald Watkins Hamilton. Bangsawan tersebut memeluk Islam pada tahun 1924 dan ceritanya adalah seorang terhormat yang berpindah memeluk Islam.

Seorang keturunan dari William Hamilton tersebut adalah salah satu dari lima Pelaku Petisi Kentish pada tahun 1701, cicit dari Laksamana Edward Joseph Hamilton, Baronet pertama Hamilton dari Perwakilan Marlborough, keturunan langsung dari Duke Abercorn dan juga Lord Hamilton yang menikahi Puteri Mary Stewart dari Skotlandia, anak perempuan dari James II dari Skotlandia.

Sir Arschibald Hamilton menjabat sebagai seorang Letnan dalam Korps Pertahanan Kerajaan yang dulunya adalah Presiden dari Asosiasi Konservatif Selsey (Sussex).

Istrinya pada tahun 1927, Lilian Maud Austen, anak perempuan dari William Austen. Lady A. A. Hamilton juga berpindah agama ke Islam.

Sir A. A. Hamilton melanjutkan ceritanya menjadi seorang muallaf; ia mengatakan bahwa “Tidak ada agama yang begitu dihina oleh kebutaan dan prasangka buruk seperti Islam; namun jika saja orang-orang mengetahuinya; Islam adalah agama yang kuat untuk orang-orang yang lemah, kaya untuk yang miskin. Kemanusiaan dibagi menjadi tiga kelas.”

Bangsawan tersebut melanjutkan: “Pertama, mereka yang hanya milik Tuhan, di luar pahala yang berikan oleh-Nya, mengkaruniakan harta dan kekayaan; kedua, mereka yang telah bekerja untuk menafkahi hidupnya; dan yang terkhir, sejumlah besar pasukan yang tidak bekerja, atau mereka yang telah jatuh bukan karena kesalahan mereka sendiri.”

Sekali lagi, Islam mengakui kejeniusan dan individualitas. Islam konstruktif dan tidak merusak. Contohnya, jika seorang pemilik lahan yang kaya dan tidak membutuhkan untuk menyuburkan lahannya menjauhkan diri dari tindakan pengolahan tersebut untuk beberapa waktu, hak miliknya tersebut menjadi hak milik publik, dan menurut hukum Syariah diserahkan pada orang pertama yang mengolahnya.

Islam dengan ketat melarang para penganutnya untuk berjudi atau terlibat di dalam permainan apapun yang melibatkan kesempatan. Islam melarang semua minuman beralkohol dan mencegah adanya bunga, yang bunga itu sendiri menyebabkan cukup bnayak penderitaan bagi umat manusia. Oleh karenanya, dalam Islam, tidak ada seorangpun yang memanfaatkan orang lain yang kurang beruntung.

Kita baik percaya pada fatalisme ataupun dalam takdir, namun hanya dalam penindakan pencegahan; yang mengatakan kepastian dari hukum tersebut dan kecerdasan untuk mengikuti hukum tersebut.

Bagi umat Islam, takdir tanpa tindakan adalah sebuah surat kematian: yang di dalamnya tidak mencukupi kecuali manusia sendiri yang menjalaninya. Umat Islam di dalam pertanggungjawabannya untuk segala tindakan dalam kehidupannya dan sesudahnya. Kita harus membawa dosa kita sendiri dan tidak ada orang lain yang dapat memperbaiki kesalahan untuk dosa orang lain.” (ppt/abn) www.suaramedia.com

Posted in: religi