5 Tokoh Satir Dunia

Posted on Mei 18, 2011

1



[UNIKNYA.COM]: Satire adalah gaya bahasa yang dipakai dalam kesusastraan untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang.  Juga memiliki arti sindiran atau ejekan–Kamus Besar Bahasa Indonesia, terbitan Balai Pustaka. Sementara satiris adalah pengarang satire, seperti para tokoh berikut ini:

1. Gaius Lucilius (180 SM)

Berdasarkan catatan Quantilia, ia adalah bangsa Romawi pertama yang menuliskan sebuah karya satir dengan baik. Ia sangat senang mengritik orang dan masyarakat secara luas, dikenal pedas dan langsung (satirical hexameter). Ia lebih menyukai dunia politik yang penuh skandal dan intrik, sebagai lahan satir, walaupun itu mengenai bangsanya sendiri.

Gaius Lucilius (sumber : m1.ikiwq)

2. Erasmus of Rotterdam (1466 – 1536)

Seorang ilmuwan, humanis, dan teolog katolik, dan berkebangsaan Belanda. Erasmus memiliki peranan penting dalam pergerakan reformasi kaum protestan yang diprakarsai oleh Martin Luther dan beberapa orang lainnya. Walaupun ia berusaha untuk tidak memihak salah satu pihak, baik protestan maupun katolik, namun ia setuju bahwa kegerejaan tidak perlu untuk direformasi. Di sisi lain, The Praise of Folly, dia terbitkan pada tahu 1511, yakni sebuah manuskrip mengenai tradisi dan tahyul yang terdapat di kegerejaan saat itu.

Erasmus of Rotterdam (sumber : artinvestment)

3. Ubayd Zakani (1370 M)

Seorang penyair dan satiris “brutal” Persia yang hidup di sekitar abad 14, berasal dari sebuah desa, Qazvin. Ubayd Zakani menimba ilmu di kota Shiraz.  Buku dan pernyataannya menjadi terkenal di setiap kota yang jadikan tempat untuk menimba ilmu. Zakani menuliskan beberapa karya yang sangat baik, dan dijadikan sebagai salah satu yang terbaik dalam Literatur Persia. Ia banyak menyoroti ketidak-adilan dan korupsi yang banyak dilakukan oleh para penguasa saat itu. Akibat satirnya itu seringkali karyanya disensor dan dicekal. Salah satu karya terbaiknya adalah “Sang Tikus dan Kucing” (The Mice and Cat), sebuah fabel yang mewakili kondisi negara dan masyarakatnya saat itu.

Ubayd Zakani (sumber : shelfari)

4. Jane Austen (1775 – 1817)

Jane dilahirkan di sebuah desa kecil, Steventon. Semenjak berusia dini, ia telah menyenangi dunia tulis menulis, dan bersemangat sekali dalam mengeksplorasi bakat-bakat  seninya—dan itu didukung oleh latar situasi dan kondisi keluarganya yang sangat mendukung. Hampir semua ilmu dan pengetahuan ia dapatkan dari hasil sekolah rumahnya, melalaui sang ayah dan saudara laki-lakinya. Hal tersebut dilakukan oleh ayah dan saudara Jane, karena mereka tak sanggup mendaftarkan Jane ke bangku sekolah.

Austen seringkali menuliskan idenya melalui sebuah puisi dan cerita, yang akan ia bacakan dihadapan seluruh anggota keluarganya. Sebagai sebuah karya pertamanya adalah sebuah satir mengenai cinta dan persahabatan sekitar tahun 1789, yang mencubit gaya penulisan dan ungkapan sastra yang menjadi mainstream saat itu. Karya Austen’s The History of England yang terbit pada tahun 1791, merupakan sebuah parodi dari beberapa buku teks yang popular pada saat itu.

Beberapa karya terakhirnya diantaranya, Sense and Sensibility (1811), Pride and Prejudice (1813), Mansfield Park (1814), dan Emma (1814). Tema-tema karyanya biasanya menggambarkan sosok perempuan saat itu yang bersikap pasrah terhadap keputusan dan keadaan lingkungannya. Perempuan di zamannya harus bertahan dalam keadaan rumah tangga seburuk apapun, walau nyawa taruhannya. Sebagai bumbunya, Austen menyampaikan satir melalui sebuah humor, dan komedi situasi.

Jane Austen (sumber : literaryhistory)

5. Jonathan Swift (1667 – 1745)

Salah satu karyanya yang popular adalah Gulliver’s Travels (1726), sebuah satir mengenai pencerahan modernisme. Ia dikenal sebagai salah satu satiris prosa Inggris yang hebat, walaupun ia berasal dari Dublin. Diuntungkan oleh sebuah revolusi yang terjadi di Irlandia, Swift pindah ke Inggris dan mendapatkan pekerjaan yang layak sebagai sekretaris di pemerintahan dan diplomat Sir William Temple. Hampir beberapa tahun ia harus pulang pergi dari Inggris ke Irlandia, bahkan ia semakin dekat ke dalam lingkaran pemerintahan Tory bahkan sampai Whigs kembali berkuasa pada 1714.

Namun lupakan politik, salah satu karya satir terbaiknya adalah A Modest Proposal(1729). Dalam karya terbaiknya tersebut, Swift menghadirkan sebuah elaborasi argumen mengenai isu kesejahteraan sosial yang terjadi di saat itu—bagaimana kemiskinan memaksa rakyat miskin menjual anak-anaknya dan dibeli oleh para orang kaya. Sebuah jiwa yang ditukar untuk sebuah roti ataupun makanan lainnya. (**)

Jonathan Swift (sumber : knoxindex.files.wordpress)

Sumber: Toptenz, 2011

Posted in: uniknya